Tentang Kepulauan Seribu bagian dari daerah kepulauan, terletak persis di Teluk Jakarta. Dalam ratusan tahun yang lalu, pulau-pulau karang mulai terbentuk ketika koloni karang mati di Teluk Jakarta. Koloni ini tumbuh di dasar laut dangkal, dan lapisan atas dari permukaan laut sebagai akibat dari pelapukan batu. Kemudian di atas batuan lapuk mulai tumbuh berbagai jenis pohon, dan tanah ditutupi dengan pasir yang sekarang kita kenal sebagai Kepulauan Seribu.
Kepulauan yang akan dibahas dan kami menggali kali ini adalah tentang orang-orang dari Kepulauan Seribu, dan juga tentang sejarah dan budaya yang membentuk sehingga muncul "orang pulo" sebutan untuk orang-orang yang berada di Kepulauan Seribu hidup hari ini. Seribu Pulau itu sendiri adalah 'Pulau Seribu "karena jumlah pulau yang sangat banyak sehingga bernama. Namun menurut catatan Pemerintah Daerah, jumlah pulau ini hanya sekitar 300an pulau dengan sekitar 110 pulau adalah habitat alam berupa flora dan fauna.
Jangan lupa peninggalan sejarah seperti makam di Kepulauan Seribu sebagai makam komandan Hitam Tidung, makam Ratu Syarifah Fatimah, ratu asal Arab yang memerintah Kesultanan Banten pada abad ke-17, makam Raja Pandita dari kerajaan Tidung Kalimantan, makam Habib Ali bin Zen bin Ahmad Al Aidid Pulau Panggang (abad ke-18), makam legenda Darah Putih Island Grill, makam Maulana Syarif Syarifudin (kerabat Kesultanan Banten) di Coconut Island, dan makam Sultan Mahmud Zakaria (kerabat Kesultanan Banten) di Long Island. Semuanya tentu menunjukkan Kepulauan Seribu memiliki track record yang kuat, dan jika menggali lebih dalam, pasti akan membuka dan menutup lembaran cerita yang telah ditemukan sebelumnya.
Thousand Island Masyarakat Budaya
Masyarakat Kepulauan Seribu kepercayaan mulai terbentuk dan berasal dari panggang Island. Dan setelah penyelesaian di pulau ribu lebih tersebar, distribusi orang dan budaya berlangsung dari satu pulau ke pulau lain, seperti Tidung, Pulau Jawa Untungnya Pramuka Island, Pulau Pari dan pulau-pulau lainnya.
Budaya dan karakteristik panggilan 'Pulo' dari panggang pulau masyarakat pada waktu itu sangat berbeda dari masyarakat Betawi, meskipun wilayah ini sangat dekat dengan kota. Tidak sama dengan tanda juga masyarakat Banten meskipun beberapa penduduk awal berasal dari Banten. Panggang masyarakat pulau memiliki kecenderungan lebih besar untuk karakteristik dan budaya sendiri, yang merupakan campuran budaya Banten, budaya dan karakteristik sosial Kalimantan, Sulawesi Mandar suku karakter, budaya dan dengan sedikit bumbu budaya Sunda dan karakter Betawi orang. Hasilnya fusi sangat kompleks menghasilkan budaya dan karakter baru, karakter sebutan 'Orang Pulo' untuk IPO Panggang Island, yang kemudian akan membentuk dan karakter dan budaya dari Kepulauan Seribu.
Hasil fusi budaya yang karakteristik dan budaya dalam memproduksi Kepulauan Seribu terlihat dalam gaya gerak bahasa serta pikiran mereka. Volume bahasa sebagai orang berbicara keras di Sulawesi, lincah dan gesit sebagai contoh khas dari jangkauan dan karakter lain suku cenderung Indonesia.
Juga dengan kuliner penamaan oleh 'Orang Pulo' yang memiliki gaya sendiri dan suara 'unik'. Menyebutkan makanan seperti kue beras atau nasi uduk konten sering dimakan untuk sarapan sebagai 'kecurangan', saus segar untuk panggang teman hidangan ikan memanggil mereka beranyut sambal, Puk isyarat untuk jenis indikasi makanan Pempek Palembang dan banyak lagi.
Mengintegrasikan Sejarah dan Budaya Kepulauan Seribu
Sejarah dan budaya diakui sebagai salah satu faktor keberhasilan instrumen regional untuk mempromosikan pariwisata lokal. Sumber daya alam seperti keindahan laut, pegunungan, pantai dan yang lain, belum tentu barometer ukuran potensi pariwisata daerah. Campuran semua orang yang akan menentukan keberhasilan kemajuan pariwisata daerah.
Oleh karena itu, pengembangan dan eksplorasi sejarah dan budaya di Kepulauan Seribu, diharapkan akan dapat meningkatkan potensi pariwisata Kepulauan Seribu yang indah ini. Jadi mudah-mudahan suatu hari nanti, Thousand Island bisa menjadi tujuan wisata favorit, Bali dan atraksi budaya kota dan alam, atau kota Yogyakarta, yang dikenal sebagai sejarah dan budaya kota.
Catatan sejarah tertua di Kepulauan berupa peninggalan prasasti Belanda dari abad ke-16 Ribu, itulah yang Kerusuhan pulau. Namun pada kenyataannya Portugis pertama kali datang ke Sunda kelapa (pelabuhan di Jakarta) menjelang Belanda, yang justru pada tahun 1513 di mana saat itu kota Jakarta masih termasuk dalam wilayah Kerajaan Sunda Padjadjaran. Tapi entah kenapa, Portugis jika tidak meninggalkan jejak di Kepulauan Seribu. Selain peninggalan prasasti, ada juga peninggalan sejarah berupa bangunan benteng di Pulau Kelor, Pulau Bidadari dan kerusuhan yang sampai sekarang kita masih dapat dilihat dalam tiga pulau. Dan untuk kita semua tahu bahwa di abad ke-17, peta buatan Belanda dipanggang semua pulau di sekitar pulau yang tak berpenghuni.
